Siwa Nataraja Sebagai Spirit

2020-10-02 12:04:52

Siwa Nataraja adalah Siwa yang digambarkan dalam pose sedang menari. Siwa diyakini sebagai dewa yang menarikan seluruh kesadaran kosmis. Karenanya Siwa diyakini sebagai sumber segala tarian indah. Siwalah sumber dari mana kesadaran dan kreativitas kesenian menyebar (ngebek) dan kepadanya menyublim (ngingkes). Bagi dunia fana, Dewa Siwa menari untuk kemakmuran, kesejahteraan dan kedamaian. Dalam fase tertinggi, Siwa menari untuk melepaskan jiwa individu dari segala belenggu maya (ilusi).  Dalam filsafat keadaan itu disebut mukti, dimana kebenaran (satyam), kesucian (siwam), dan keindahan (sundaram) menjadi satu kesatuan tak terpisahkan. Pelepasan jiwa ini sebagai upaya meraih puncak kesadaran kosmis.  Maka Siwa Nataraja sejatinya adalah sumber inspirasi, motivasi, dan sekaligus tujuan berkreativitas para kreator seni menapaki tangga-tangga spiritualitas menuju kesadaran kosmis Siwa.

Mengacu Siwatattwa di India terdapat beberapa versi tarian dan pose sesuai dengan peran 
yang dilakoniNya. Semuanya mengandung simbol tertentu. Pose terindah dan tersulit adalah 
Urdhva Tandava dengan sikap kaki kiri terangkat dan ibu jari tegak menunjuk langit. Sikap ini di-
ambil ketika Siwa menunjukkan kepada Kali segala jenis tarian terindah. 

Dalam konsep Hindu tari bukanlah sekedar kumpulan gerak ritmis yang indah, melainkan berhubungan erat dengan nilai-nilai spiritual di mana kebenaran, kesucian, dan keindahan membiakkan ritus-ritus baru dalam diri. Semuanya bermuara pada kedamaian jiwa. 

Dalam praktik kehidupan, spirit satyam-siwam-sundaram berpadu dengan dharma, artha, kama untuk mencapai pembebasan Jiwa (moksa). Keseimbangan kesemuanya itulah menghadirkan kebahagiaan tertinggi dalam olah kreatif. Ketika karya kreatif diha-dirkan dengan semangat kebenaran, kesucian, dan keindahan untuk menyelaraskan kewajiban, materi, dan kebutuhan hidup, maka lahirlah kesejahteraan. 

Dalam konsep Ekonomi Kreatif yang diusung Kota Denpasar, kreativitas bukanlah seke-dar komoditi yang diperjualbelikan, melainkan sebentuk aktivitas kreasi yang berakar dari tradisi (yang di dalamnya telah mengkristal semangat satyam-siwam-sundaram) dan dikemas dengan gaya dan ornamen kekinian. Tujuan utamanya: kesejahteraan masyarakat setinggi-tingginya. Seluas-luasnya. Itulah yang diistilahkan dengan orange economy atau ekonomi oranye.